Minggu, 17 Maret 2013

DEAR DIRECTOR

Berastagi,  18 Maret 2013   
Kepada YTH: Bapak sutradara
di tempat

Bersamaan dengan surat ini saya ingin memberitahukan kepada Bapak perihal keberadaan saya. Saya hanya mengira-ngira apakah Bapak memiliki lowongan untuk pemeran utama wanita. Apabila Bapak memiliki lowongan, sudilah kiranya Bapak meluangkan waktu untuk membaca resume saya, sbb:

Nama          : Ichin Purba
Usia             : 26 tahun
Pendidikan   : S1 Psikologi

Saya memiliki dedikasi yang sangat tinggi dalam bidang perfilman, terbukti dengan waktu yang sudah saya habiskan untuk menonton film-film dan drama Korea. Saya bisa bekerja secara personal maupun dalam tim. Saya tidak pernah memiliki masalah ketika nonton sendirian di kamar ataupun beramai-ramai di bioskop. Kemampuan akting saya bisa dikatakan diatas rata-rata anak TK. Saya sudah banyak membintangi drama-drama kehidupan dan saya akan menuturkan beberapa diantaranya.

1.     Cintaku sebatas puding (Genre : Romantic Comedy Tragic)
Saya berperan sebagai Ichin, cewek yang naksir seorang cowok dan memberikan puding untuk menunjukkan cintanya. Cerita berakhir tragis, karena Ichin gak berani melakukan hal lain, selain memberikan puding.

2.     Malam-malam kelabu (Genre : Drama, Tragic)
Hari-hari dimana pemeran utama (saya) harus menangisi beberapa hal dalam kehidupan. Cerita ini diharapkan bisa berakhir bahagia.

3.     Guruku Pelitaku (Genre : Drama, Education)
Disini saya juga berlakon sebagai pemeran utama, perjuangan seorang guru untuk mendidik anak muridnya dengan cara-cara yang menyenangkan. Sang guru hanyalah manusia biasa, yang kadang bisa khilaf dan menjadi marah, namun dibalik semuanya, dia sangat menyayangi anak-anaknya. (Drama masih tayang dan belum tahu kapan akan tamat).

Disamping tanyangan diatas, saya juga pernah berperan dalam beberapa pertunjukan teater, sebagai contoh:

1.     Ulang tahun Okta
Drama ini mengisahkan tentang keusilan seorang sahabat dalam rangka ulang tahun teman sebangkunya. Tanpa sebab dan musabab Ichin marah besar pada teman sebangkunya, tidak cukup hanya satu jam, Ichin terus-menerus marah hingga sekolah usai. Diakhir pelajaran Ichin yang sangat marah mulai menuduh temannya yang tidak setia, yang menusuknya dari belakang. Okta, teman sebangkunya merasa tidak melakukan apa-apa. Okta menangis, dituduh dan dipermalukan dihadapan teman sekelas. Ichin menunjukkan bukti kajahatan Okta dan tiba-tiba.... plak, telur mengalir dari kepala Okta.

2.     Citttttttttttt BUMP!!!!
Dalam rangka retreat Fakultas Kedokteran, diadakanlah pertunjukan drama. Saya berperan sebagai pengendara sepeda motor yang menabrak korban (Bona). Maaf, peran saya cuma segitu doang, tapi banyak ada yang bilang akting saya bagus dan total sekali dan sekarang orangnya udah jadi dokter. (Sekarang kalau dipikir2, kok mau ya saya berperan bego begitu, disaksikan oleh seluruh anak kedokteran, keperawatan, dan psikologi lagi! Tapi yang namanya artis itu ga memandang peran, semua peran itu besar).

3.     Derita OSPEK-mu
Disini saya berperan sebagai kakak senior yang galak dan sangar. Yang selalu menekan adik-adik kelasnya. Saya memperbudak mereka untuk hal-hal yang aneh dan tidak masuk akal. Memarahi mereka secara berlebihan. Menyiksa mereka secara batin. Drama ini berakhir bahagia, dimana saya selalu dikucilkan adik kelas karena dianggap JAHAT. (Hmmm, disini saya tidak berakting, karena dalam keseharian saya memang Jahat dan Kejam.)

Demikianlah surat lamaran ini saya perbuat dan semoga menjadi bahan pertimbangan bagi Bapak. Saya sangat mengharapkan panggilan dari Bapak, kalau tidak sempat telepon, Bapak bisa SMS, saya juga bisa dihubungi melalui Whatsapp dan Facebook. Maaf Pak, saya tidak punya twitter.

NB : Pak, saya cuma mau menjadi pemeran utama.

                                                                                                Terakting



                                                                                                 Ichin   
      
 (Pemikiran bego yang muncul setelah ngobrol dikit dengan seorang sutradara "Orizasativa")

Jumat, 25 Januari 2013

Obviously Love


Kemarin, salah satu temanku mau mengenalkan pacar barunya. Jadi, dia minta pacarnya untuk menjemput dan aku akan numpang mobilnya.

Hal yang membuatku geli adalah justru saat momen-momen kami menunggu kedatangan pacarnya.

Dia kerap kali menginformasikan kepadaku kekurangan-kekurangan pacarnya. Yang si pacar itu begini atau si pacar itu begitu. Tapi satu hal yang aku sadari darinya adalah, dia berusaha menginformasikan semua itu untuk membuatku lebih mengenal pacarnya bahkan saat kami belum bertemu dan mungkin untuk membuatku lebih bisa menerima pacarnya.

Hal ini membuatku teringat kembali beberapa tahun yang lalu, seorang teman juga melakukan hal yang sama terhadapku. Saat menceritakan pacarnya, teman ini berusaha untuk mengungkapkan semua kekurangan yang dimiliki pacarnya dan tidak menutupinya sedikitpun.

Cara kedua teman ini dalam menceritakan kekurangan pasangan mereka justru membuatku bisa merasakan betapa mereka mencintai pasangan mereka.

Aku telah bertemu dengan pasangan mereka, tidak ada satu komentarpun yang bisa kuberikan. Yang aku tahu mereka mencintai pasangan masing-masing dan mereka berhak untuk bahagia bersama.

Namun yang paling indah dari semua pengalaman ini adalah akhirnya aku menyadari ketika kau mencintai seseorang dan kau merasa ingin membaginya dengan seorang teman, teman tersebut pasti cukup berharga sehingga kau ingin dia juga merasakan cinta yang kau miliki terhadap pasanganmu. Dan aku bangga menjadi salah satunya. 

Kamis, 10 Mei 2012

Come On And Marry Me Will

Sekitar sebulan yang lalu bapak menanyakan usiaku. Dan ketika mendengar jawabanku, bapak dengan nada yang santai memintaku untuk mulai mencari jodoh. Reaksiku sama santainya dengan nada yang dikeluarkan bapak. Aku cukup "beruntung" dibandingkan dengan teman-teman sepermainanku. Orangtua mereka punya energi yang sangat besar untuk setiap harinya mendorong anak mereka untuk segera menikah, sedangkan keluargaku sangat "tenang" dalam hal ini.  Suatu ketika temanku berkata, "Chin, carikan aku pacar lah...." Saat itu aku cuma bilang, "Aku aja belum dapat, gimana mau cari punyamu?" Karena permintaan itu sering sekali disampaikan , akhirnya aku bertanya, "Kau niat kali nikah ya?" Bukan gitu, Chin, bapakku selalu bilang mau lihat aku nikah. Dikesempatan yang berbeda dan dengan teman yang berbeda, seorang teman bilang, "Aku nikah ajalah, carikan aku jodoh orang Karo lah, Chin." Teman-temanku ini seolah-olah membuat diriku semacam biro jodoh, padahal sejujurnya aku paling gak kompeten dalam hal jodoh-jodohan.  Dan kataku saat itu, "Kau udah niat nikah ya?" "Mamakku itu tiap hari suruh aku nikah", jawabnya padaku.

Saat kami bertiga bertemu aku bertanya pada mereka berdua, "Emangnya kalian tiap hari disuruh nikah gitu?" Mereka berdua punya jawaban dengan kalimat berbeda namun dengan inti yang sama: Secara berkala orangtua mereka mendorong mereka untuk menikah SECEPATNYA. Begitu hasratnya orangtuanya sampai-sampai kembali ke zaman Sitinurbaya. Diadakanlah acara perjodohan. Syukurnya, anaknya bisa menolak, sedangkan Siti Nurbaya dikawin paksa dengan Datuk Maringgih. 

Lain lagi ceritanya dengan teman yang ketiga. Yang ini ceritanya orangtua zaman modern. Si Ortu sampai bikin account facebook demi mempermudah adegan perkenalan antara anaknya dengan anak-anak temannya. Sekali lagi syukur, walau setiap hari meminta anaknya menikah, sang Orangtua masih menghargai pilihan anaknya.

Aku sangat mensyukuri keluargaku yang tak pernah mendesakkan sesuatu pada anggota keluarga yang lain. Gak kebayang gimana rasanya kalau harus memikul beban stres karena tuntutan pernikahan. Dan ya, teman-temanku ada yang merasa tertekan karena hal itu. 

Didalam ketenangan keluargaku, pihak lain justru mendorong. Entah ada angin apa tiba-tiba seharian ini orang-orang mengangkat topik jodoh denganku. Dimulai dipagi hari, ketika aku pergi ke toko obat. Ketemu dengan seorang ai (bibi), dia mengenalku dan mulai mengobrol denganku. Dipertengahan cerita dia mulai bertanya. "Udah punya teman?" "Belum, i," kataku. "Oh, udah bisa dicari itu." Aku cuma tersenyum sambil mengangguk. "Nanti cari yang ten nang (suku tiong hoa) aja ya," katanya berbisik sambil melirik asisten rumah tangga yang kebetulan kubawa. Mungkin dia merasa tak enak kalau sampai kedengaran. "Kalau sama ten nang enak. Lihatlah brbrbrbr (entah siapa, aku tak bisa mendengar dengan jelas), dia kan kawin sama ten nang, kan enak." "Iya, iya, i," kataku sambil mengangguk cepat, takut telat pergi mengajar.

Hmmm apa iya enak, pikirku dalam hati. Teringat dua bulan yang lalu aku menonton siaran Jepang yang menceritakan trend warga Cina yang mana kaum pria akan berselingkuh demi harga diri. Hffff.... kalau itu deskripsi dari enak, aku menyerah saja!

Saat mengajar kelas pagi, anak muridku tiba-tiba berujar, "Miss, pasti udah punya pacar!" Aku cuma bisa melihatnya dengan tampang bingungku. Dia kemudian mengejar lagi, "Iya kan! Iya kan! Iya kan?!" Dan aku menjawab, "Sok tahu!"

Sebelum kelas sore dimulai aku pergi membeli roti, disana aku ketemu dengan adik ipar pamanku. Dan dia pun mulai bertanya. "Ichin udah ada pacar?" Lagi-lagi harus menjawab, "Belum, i." "Udah bisa cari itu, Chin. Lu udah umur berapa." "Datang sendirinya nanti itu, i." "Jangan gitu lu, Chin. Udah bisa cari itu." "Okelah, i, nanti kucari," jawabku mengelak. Ketika aku beranjak pergi dia berkata, "Chin, lu cari yang orang Cina aja ya." "Ya, ya ,ya," kataku sambil mengangguk dan menjauh. 

Dalam perjalanan menuju tempat les aku kemudian mengorek-ngorek memoriku. dulu emakku sering kali berkata pada saudaranya yang orang karo. "Aku pagi la kubere anakku ei man kalak karo. Anakku e pagi rasa kalak cina. Adi kalak karo melala kel adat-adatna silang-lang. La ateku bage." (Artinya: Kalau aku nanti gak akan ngasih anakku sama orang karo. Nanti anakku sama orang cina. Kalau orang karo banyak kali adatnya yang aneh-aneh. Aku gak suka) Dan saudara emakku menjawab, "Uelah, uelah," sambil mengangguk-angguk. (Artinya : iyalah, iyalah). 

Aku berpikir keras, bukankah adat dan kebiasaan tiong hoa dan karo itu sama saja absurdnya? Sama saja merepotkannya? Sama saja anehnya? Kalau yang dimaksudkan emakku dimana semua bagian adat yang merepotkan itu dihilangkan dan jalani hidup dengan norma normalnya manusia, aku setuju. Keluarga kami  terlalu hybrid untuk masuk ke ras tertentu. Kami terlalu netral untuk mengikuti suatu adat. Bisa dibilang pengetahuan kami anak-anaknya terlalu tanggung untuk mengikuti adat apapun juga. Keluarga kami terlalu tiong hoa bila dipandang dari sudut karo dan terlalu karo dari sudut pandang tiong hoa. Karena sebenarnya keluarga kami hanya menjalankan hidup selayaknya manusia tanpa terpengaruh suatu adat tertentu. Malah bapakku yang original tiong hoa merasa beberapa adat istiadat hanyalah formalitas dan emakku yang notabene karo malah tak suka dengan adat-adatnya yang "merepotkan".

Kembali lagi ke topik jodoh.  Saat masuk kelas terakhir, muridku menyeletuk, "Miss, udah punya pacar?" Dan jawabanku, "MAU TAHU AJA!!!!"

Selasa, 20 Maret 2012

Love Drives You Stupid

Beberapa minggu yang lalu, aku dan temanku ketemuan, terus rencananya kita mau fotoan. Ternyata fotografernya gak bisa dihubungi. Dengan terpaksalah kami membatalkan acara tersebut dan banting setir ke rencana B. Ternyata hujan turun dan rencana B juga harus dibatalkan. Setelah berembuk dibawah siraman hujan, akhirnya lahirnya rencana C (ngebayanginnya kayak di film2 korea, dibawah naungan payung, berdiri dipinggir jalan, kendaran melaju dengan cepat, kami saling menatap..... sayang dia ternyata wanita!). 

Setibanya di rencana C (baca : warung wajik), kami memesan makanan dan mulai bernostalgia. "Eh, ingat gak, waktu bla.... bla.... bla....?" "Oh ya? Bla...bla...bla...." "Bla.... bla.... bla.... bla... bla... bla...." Bla... bla.... bla..." "Eh, kabarnya si X gimana ya?"
"Gak tau, katanya dia udah ada pacarnya sekarang." 
"Hiiii...... kasihannya ditinggal."
"Eh... biasa ajalah, Chin."
"Padahal dia dulu kan cinta mati ma kamu."
"Ah, masa sih?"
"Iya, ingat gak dia sampe konsultasi ma emaknya?"
"Konsultasi?"
"Ho oh, isinya gimana ya? Ada kata-katanya, aku bertanya pada ibuku, apakah rasanya ini. Dan ibuku pun bilang padaku, bahwa aku sudah jatuh cinta."
"Hahahaha.... ada-ada aja ya."
"Terus ingat gak Si Y yang waktu itu suka ma Z, dia sampe bela-belain ngerjain tugas keterampilannya si Z."
"Iya, tapi hebat juga ya, cowok bisa bikin sulaman."
"Itulah dia, namanya juga demi cinta."
"Terus Si Y juga pernah suka sama N, wuih.... hebat. Itu bikin pusing benar. Si N sampe kucing-kucingan biar ga ketahuan kalo N sebenarnya udah pacaran ma O. Terus waktu Y suka sama N, dia juga suka sama D lho."
"Ha!!!! Gimana ceritany a?"
"Iya, kemaren itu kan aku lagi ke Jakarta, ketemuan sama Y dia cerita panjang lebar, kusuruh tembak aja. Waktu ditembak si D malah ngeles. Dia suruh Y datang, nembak secara langsung jangan lewat telepon."
"Hahahahahaa......."
"Eh, btw kita ngomongin cinta teman-teman melulu. Kita kapan dapat pacarnya?"
.................................................