Kamis, 10 Mei 2012

Come On And Marry Me Will

Sekitar sebulan yang lalu bapak menanyakan usiaku. Dan ketika mendengar jawabanku, bapak dengan nada yang santai memintaku untuk mulai mencari jodoh. Reaksiku sama santainya dengan nada yang dikeluarkan bapak. Aku cukup "beruntung" dibandingkan dengan teman-teman sepermainanku. Orangtua mereka punya energi yang sangat besar untuk setiap harinya mendorong anak mereka untuk segera menikah, sedangkan keluargaku sangat "tenang" dalam hal ini.  Suatu ketika temanku berkata, "Chin, carikan aku pacar lah...." Saat itu aku cuma bilang, "Aku aja belum dapat, gimana mau cari punyamu?" Karena permintaan itu sering sekali disampaikan , akhirnya aku bertanya, "Kau niat kali nikah ya?" Bukan gitu, Chin, bapakku selalu bilang mau lihat aku nikah. Dikesempatan yang berbeda dan dengan teman yang berbeda, seorang teman bilang, "Aku nikah ajalah, carikan aku jodoh orang Karo lah, Chin." Teman-temanku ini seolah-olah membuat diriku semacam biro jodoh, padahal sejujurnya aku paling gak kompeten dalam hal jodoh-jodohan.  Dan kataku saat itu, "Kau udah niat nikah ya?" "Mamakku itu tiap hari suruh aku nikah", jawabnya padaku.

Saat kami bertiga bertemu aku bertanya pada mereka berdua, "Emangnya kalian tiap hari disuruh nikah gitu?" Mereka berdua punya jawaban dengan kalimat berbeda namun dengan inti yang sama: Secara berkala orangtua mereka mendorong mereka untuk menikah SECEPATNYA. Begitu hasratnya orangtuanya sampai-sampai kembali ke zaman Sitinurbaya. Diadakanlah acara perjodohan. Syukurnya, anaknya bisa menolak, sedangkan Siti Nurbaya dikawin paksa dengan Datuk Maringgih. 

Lain lagi ceritanya dengan teman yang ketiga. Yang ini ceritanya orangtua zaman modern. Si Ortu sampai bikin account facebook demi mempermudah adegan perkenalan antara anaknya dengan anak-anak temannya. Sekali lagi syukur, walau setiap hari meminta anaknya menikah, sang Orangtua masih menghargai pilihan anaknya.

Aku sangat mensyukuri keluargaku yang tak pernah mendesakkan sesuatu pada anggota keluarga yang lain. Gak kebayang gimana rasanya kalau harus memikul beban stres karena tuntutan pernikahan. Dan ya, teman-temanku ada yang merasa tertekan karena hal itu. 

Didalam ketenangan keluargaku, pihak lain justru mendorong. Entah ada angin apa tiba-tiba seharian ini orang-orang mengangkat topik jodoh denganku. Dimulai dipagi hari, ketika aku pergi ke toko obat. Ketemu dengan seorang ai (bibi), dia mengenalku dan mulai mengobrol denganku. Dipertengahan cerita dia mulai bertanya. "Udah punya teman?" "Belum, i," kataku. "Oh, udah bisa dicari itu." Aku cuma tersenyum sambil mengangguk. "Nanti cari yang ten nang (suku tiong hoa) aja ya," katanya berbisik sambil melirik asisten rumah tangga yang kebetulan kubawa. Mungkin dia merasa tak enak kalau sampai kedengaran. "Kalau sama ten nang enak. Lihatlah brbrbrbr (entah siapa, aku tak bisa mendengar dengan jelas), dia kan kawin sama ten nang, kan enak." "Iya, iya, i," kataku sambil mengangguk cepat, takut telat pergi mengajar.

Hmmm apa iya enak, pikirku dalam hati. Teringat dua bulan yang lalu aku menonton siaran Jepang yang menceritakan trend warga Cina yang mana kaum pria akan berselingkuh demi harga diri. Hffff.... kalau itu deskripsi dari enak, aku menyerah saja!

Saat mengajar kelas pagi, anak muridku tiba-tiba berujar, "Miss, pasti udah punya pacar!" Aku cuma bisa melihatnya dengan tampang bingungku. Dia kemudian mengejar lagi, "Iya kan! Iya kan! Iya kan?!" Dan aku menjawab, "Sok tahu!"

Sebelum kelas sore dimulai aku pergi membeli roti, disana aku ketemu dengan adik ipar pamanku. Dan dia pun mulai bertanya. "Ichin udah ada pacar?" Lagi-lagi harus menjawab, "Belum, i." "Udah bisa cari itu, Chin. Lu udah umur berapa." "Datang sendirinya nanti itu, i." "Jangan gitu lu, Chin. Udah bisa cari itu." "Okelah, i, nanti kucari," jawabku mengelak. Ketika aku beranjak pergi dia berkata, "Chin, lu cari yang orang Cina aja ya." "Ya, ya ,ya," kataku sambil mengangguk dan menjauh. 

Dalam perjalanan menuju tempat les aku kemudian mengorek-ngorek memoriku. dulu emakku sering kali berkata pada saudaranya yang orang karo. "Aku pagi la kubere anakku ei man kalak karo. Anakku e pagi rasa kalak cina. Adi kalak karo melala kel adat-adatna silang-lang. La ateku bage." (Artinya: Kalau aku nanti gak akan ngasih anakku sama orang karo. Nanti anakku sama orang cina. Kalau orang karo banyak kali adatnya yang aneh-aneh. Aku gak suka) Dan saudara emakku menjawab, "Uelah, uelah," sambil mengangguk-angguk. (Artinya : iyalah, iyalah). 

Aku berpikir keras, bukankah adat dan kebiasaan tiong hoa dan karo itu sama saja absurdnya? Sama saja merepotkannya? Sama saja anehnya? Kalau yang dimaksudkan emakku dimana semua bagian adat yang merepotkan itu dihilangkan dan jalani hidup dengan norma normalnya manusia, aku setuju. Keluarga kami  terlalu hybrid untuk masuk ke ras tertentu. Kami terlalu netral untuk mengikuti suatu adat. Bisa dibilang pengetahuan kami anak-anaknya terlalu tanggung untuk mengikuti adat apapun juga. Keluarga kami terlalu tiong hoa bila dipandang dari sudut karo dan terlalu karo dari sudut pandang tiong hoa. Karena sebenarnya keluarga kami hanya menjalankan hidup selayaknya manusia tanpa terpengaruh suatu adat tertentu. Malah bapakku yang original tiong hoa merasa beberapa adat istiadat hanyalah formalitas dan emakku yang notabene karo malah tak suka dengan adat-adatnya yang "merepotkan".

Kembali lagi ke topik jodoh.  Saat masuk kelas terakhir, muridku menyeletuk, "Miss, udah punya pacar?" Dan jawabanku, "MAU TAHU AJA!!!!"

Selasa, 20 Maret 2012

Love Drives You Stupid

Beberapa minggu yang lalu, aku dan temanku ketemuan, terus rencananya kita mau fotoan. Ternyata fotografernya gak bisa dihubungi. Dengan terpaksalah kami membatalkan acara tersebut dan banting setir ke rencana B. Ternyata hujan turun dan rencana B juga harus dibatalkan. Setelah berembuk dibawah siraman hujan, akhirnya lahirnya rencana C (ngebayanginnya kayak di film2 korea, dibawah naungan payung, berdiri dipinggir jalan, kendaran melaju dengan cepat, kami saling menatap..... sayang dia ternyata wanita!). 

Setibanya di rencana C (baca : warung wajik), kami memesan makanan dan mulai bernostalgia. "Eh, ingat gak, waktu bla.... bla.... bla....?" "Oh ya? Bla...bla...bla...." "Bla.... bla.... bla.... bla... bla... bla...." Bla... bla.... bla..." "Eh, kabarnya si X gimana ya?"
"Gak tau, katanya dia udah ada pacarnya sekarang." 
"Hiiii...... kasihannya ditinggal."
"Eh... biasa ajalah, Chin."
"Padahal dia dulu kan cinta mati ma kamu."
"Ah, masa sih?"
"Iya, ingat gak dia sampe konsultasi ma emaknya?"
"Konsultasi?"
"Ho oh, isinya gimana ya? Ada kata-katanya, aku bertanya pada ibuku, apakah rasanya ini. Dan ibuku pun bilang padaku, bahwa aku sudah jatuh cinta."
"Hahahaha.... ada-ada aja ya."
"Terus ingat gak Si Y yang waktu itu suka ma Z, dia sampe bela-belain ngerjain tugas keterampilannya si Z."
"Iya, tapi hebat juga ya, cowok bisa bikin sulaman."
"Itulah dia, namanya juga demi cinta."
"Terus Si Y juga pernah suka sama N, wuih.... hebat. Itu bikin pusing benar. Si N sampe kucing-kucingan biar ga ketahuan kalo N sebenarnya udah pacaran ma O. Terus waktu Y suka sama N, dia juga suka sama D lho."
"Ha!!!! Gimana ceritany a?"
"Iya, kemaren itu kan aku lagi ke Jakarta, ketemuan sama Y dia cerita panjang lebar, kusuruh tembak aja. Waktu ditembak si D malah ngeles. Dia suruh Y datang, nembak secara langsung jangan lewat telepon."
"Hahahahahaa......."
"Eh, btw kita ngomongin cinta teman-teman melulu. Kita kapan dapat pacarnya?"
.................................................

Jumat, 03 Februari 2012

WEDDING (not mine)


Minggu depan seorang teman akan melangsungkan pernikahan. Seorang pria mungkin akan merasa mudah saja menghadiri pesta pernikahan temannya. Namun sebagai wanita secara umumnya, menghadiri pernikahan teman bukanlah hal yang mudah apalagi yang menikah teman dekat. Berikut ini merupakan perbandingan antara pria dan wanita dalam menghadiri pernikahan :

KENALAN
-Pria : Kemeja plus celana kain yang gak lusuh

-Wanita : One piece plus high heels, plus dandanan yang gak malu-maluin

TEMAN BIASA
-Pria : Pakai kemeja plus celana kain panjang yang agak bagusan

-Wanita : Pakai dress plus dandanan yang matching dengan outfit n tatanan rambut

TEMAN DEKAT
-Pria : Pakai kemeja plus celana kain yang agak baru (syukur-syukur beli baru)

-Wanita : Pakai dress, yang pasti baru ato paling gak baru dipake sekali itupun dipake waktu teman ybs ga ikut keacara dimana baju itu dipake untuk pertama kali. Make up boleh sendiri tapi hasilnya ga boleh kalah sama salonan. Rambut harus ok. Gak boleh keliatan terlalu "biasa" dan juga ga boleh terlalu ngejreng, jangan sampai yang punya hajatan sampai kalah. Sepatu harus nyaman tapi jangan keliatan gembel, dan yang paling penting gak boleh ga matching ma bajunya. Belum lagi aksesorisnya.

Nah, keliatankan bedanya? Kalo jadi cowok tuh cuma butuh modal kemeja putih, celana kain, tinggal dasi deh divariasiin, kalo keren-keren amat juga punya jas hitam sebiji. Udah bisa deh dipake kemana-mana. 

Kalo jadi cewek tuh butuh  banyak hal. Bukan sekedar mau cantik-cantikan doang ato gengsi-gengsian, ato apalah namanya. Tapi beginilah cara kita untuk menunjukkan care-nya kita buat teman-teman dekat. Persiapan cewek untuk ke pesta pernikahan temannya itu gak cukup seminggu doang. Biasanya direncanakan dari jauh-jauh hari. Bisa sampe sebulan persiapannya (yup, ini berdasarkan pengalaman pribadi). Kita sebagai teman yang baik gak mau keliatan lusuh ato terkesan asal-asalan waktu muncul dipernikahan mereka. That is the day that they gonna remember for the rest of their life. Jadi kita wajib beri yang terindah juga buat mereka.   That is why we try our best on their wedding day.

Semoga setelah membaca entry ini pria akan terjawab rasa penasarannya; kenapa sih perempuan harus punya 5 gaun yang semuanya berwarna hitam? Kenapa sih perempuan harus punya banyak aksesoris? Kenapa sih perempuan harus punya banyak jenis high heels? Jawabannya ya cuma satu, perempuan lebih banyak temannya. Hahahahahahaha.......

Sampai disini dulu ya ceritanya, soalnya diriku masih sibuk mikirin headband dan sash buat kepesta nanti.


Kamis, 26 Januari 2012

Death By Smoke


Seriously!!!!
Kenapa sih ada aja orang di dunia ini yang keukeuh merokok di depan, ralat TEPAT DI MUKA ORANG LAIN!!!


Mungkin bagi sebagian merokok itu asyik, gaul, cool, or whatever lah. Gak masalah lah kalo mau merokok, tapi setidaknya jangan ikut merugikan orang lain dong. Pernah gak kamu-kamu sekalian para perokok dikasih makanan atau benda yang paling kamu jauhin seumur hidupmu tapi seorang yang tidak dikenal malah sok-sok-an menyodor-nyodorkan makanan atau benda itu ke kamu. Gimana rasanya????!!!!

Enak? Enak? ENAK GAK???!!!!

Enggak kan! Yah, sadar dong, begitu jugalah rasanya buat kita. Stop smoking in front of other peoples. Sudah sewajarnyalah rakyat Indonesia ini dididik untuk bersikap sopan. Bullshit-lah dengan semua kebudayaan, adat istiadat yang memang sedari dulu membentuk pria/wanita Indonesia memakai rokok sebagai bagian dari tradisinya. Move on! Berasimilasi dong dengan perkembangan dunia. Tahu gak sih rokok tuh banyak banget resikonya? Pasti tahu, cuma belagak bego aja. Alasannya kalo gak merokok bisa gemuklah, kalo gak merokok gak bisa mikirlah, bla...bla...bla.... Emang otak situ kali yang dah soak. Refresh gih! Mau tahu caranya? Berhenti merokok, biar kandungan oksigennya makin banyak. Edan! Emang situ dari bayi dikasih rokok buat belajar apa?

Selain udah berdosa karena ikut serta dalam usaha pembunuhan manusia secara massal, perokok juga berdosa karena udah bikin orang lain yang merasa terganggu menjadi marah. Contohnya ya saya ini. Sesak Pak! Sesak banget rasanya! 

Kadang kalo mood lagi jelek banget, tiba-tiba terlintas di kepala buat langsung marahin perokok-perokok itu. Yang parahnya kalo dikasih tahu baik-baik, perokok tuh suka malah nambah ngisap dalam-dalam rokoknya. BT gak sih jadinya? Tolonglah dengan segala hormat, hormati orang lain disekitar Anda.

Padahal kalo anaknya dirumah ketahuan merokok, bapaknya bakal senewen. Pake acara marah-marah. Katanya :"Dasar anak kurang ajar, kecil-kecil udah merokok. Besar mau jadi apa kamu?!" 
Untung anaknya gak balas : "Dasar bapak gak tahu diri! Sudah besar masih belum tahu harus berbuat apa. Mau cepat mati kamu?"

Buat para perokok yang baca entry ini, tolong berhenti merokok di depan orang lain.
Sekian dan terima kasih.

Note : Saat ini penulis mengetik dengan penuh kemarahan. Apabila dikemudian hari Anda tidak berkenan dengan tulisan ini, silahkan salahkan perokok.